Sungai Rotan adalah sebuah kecamatan di
Kabupaten Muara Enim, Sumatera
Selatan, Indonesia.
Kecamatan ini terletak di pesisir Sungai Lematang. Kecamatan ini memiliki 19
desa terdiri dari Desa Muara Lematang, Tanding Marga, Suka Merindu, Sungai
Rotan, Kasai, Danau Baru, Danau Tampang, Paya Angus, Petar Dalam, Petar Luar,
Sukadana, Sukajadi, Sukarami, Sukamaju, Danau Rata, Penandingan, Suka Cinta,
Tanjung Miring, dan Modong. Mayoritas penduduk di kecamatan ini beragama Islam. Suku Lematang
banyak ditemukan di kecamatan ini. Oleh karena itu, kecamatan ini ikut
menyumbang keanekaragaman suku di Indonesia
khususnya di Sumatera Selatan.
Kecamatan Sungai Rotan merupakan hasil dari
pemekaran dari Kecamatan Gelumbang. Namun pada tahun 2000 kecamatan ini
memisahkan diri dari kecamatan induk dan bertransformasi menjadi sebuah
kecamatan baru. Ibukota kecamatan ini terletak di desa Sukarami.
Mayoritas mata pencaharian di kecamatan ini
adalah hasil dari perkebunan dan pertanian. Kebun karet dan lahan sawah telihat
di sepanjang jalan kecamatan. Tak hanya itu, tanaman Rotan juga banyak
ditemukan di sepanjang jalan utama kecamatan. Rotan dimanfaatkan untuk bahan
dasar untuk membuat kursi, bakul (sangkek), tas punggung (sarau). Selain itu,
rotan yang masih muda (dikenal dengan nama 'umbut') sangat enak dijadikan
lalapan (ulam).
Kecamatan Sungai Rotan berbatasan langsung dengan
Kecamatan Rantau Bayur, Banyuasin disebelah utara,
berbatasan dengan Kecamatan Tanah Abang, Penukal Abab
Lematang Ilir, dan Kecamatan Lembak disebelah selatan. Disebelah Barat
berbatasan dengan Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, sedangkan
disebelah timur berbatasan langsung dengan Kecamatan Gelumbang, Muara Enim.
Tempat-tempat yang banyak dikunjungi di kecamatan
ini adalah Dermaga Lematang terletak di Desa Muara Lematang, BKB Mini terletak
di Desa Kasai, Jembatan Modong terletak di Desa Modong, Jembatan Gantung
terletak di Desa Sukacinta, Pantai Seberang terletak di Desa Sungai Rotan, dan
Pantai Petar terletak di Desa Petar Dalam
-
Dikutip dari Wikipedia
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Asal muasal Sungai Rotan serta pemerintahan dan zuriat yang hingga
kini dikenal sebagai Ngabehi yang tidak lain adalah Kepala Pemerintahan. Kedudukan Ngabehi Sendiri pada masa itu adalah
“Raja Daerah”, Hal ini berdasarkan
struktur yang dibangun pemerintah zaman
Raja Sriwijaya yang mengharuskan anak cucunya untuk memimpin dan mengembangkan
suatu daerah yang kepemimpinannya kemudian disebut Ngabehi. Sedangkan untuk
Penguasa tertinggi ialah Raja Sriwijaya
yg bernama "Raden Bala Putradewa bin Raden Mpu Sendok (Raja Kediri) menurut
silsilah berasal dari Kerajaan Singosari
di Jatim yang bersaudara dengan Ratu SIMA (RatuAdil) lihat di Sejarah Nadional Kerajaan
Nusantara.
Salah satu keturunan Raden Bala Putra Dewa yang bernama “Raden Kusumodiningrat”,
diangkat menjadi Raja Palembang I Ulu tepatnya di Sungai Goren Kampung Prigi
yang memiliki keturunan yang salah satunya kemudian diangkat menjadi “Ngabehi”
Hulu sungai yang atas prakarsa beliaulah maka kemudian terbentuk Desa Sungai
Rotan pertama yang berlokasi di Ulak Pauh. Namun karena faktor alam yakni
tergerusnya tanah daratan oleh air sungai lematang di wilayah tersebut maka
akhirnya Desa Sungai Rotan pun pindah ke wilayah yang sekarang.
Menurut sejarah, Ngabehi I yang membangun Sungairotan adalah “Raden Muhammad Nur
Metajobesi” yang kemudian secara turun temurun memerintah wilayah Sungai Rotan
kurang lebih mulai dari tahun 1650
sampai tahnu 1955.
Jadi perlu diketahui Sungai rotan didirikan oleh
dinasti kerajaan Sriwijaya Raden Muhamad Nur zuriat dari Raja palembang 1 ulu
Sungai Goren kampung Prigi yakni Raden Kusumo Diningrat, yang kemudian diberi gelar “Ngabehi” dan secara
turun temurun memimpin Wilayah Sungai Rotan sampai berakhirnya pada masa
kepemimpinan Ngabehi VIII.
Pada abad
ke 18, agresi belanda dimulai. Nusantara berhasil di taklukkan oleh Belanda
melalui berbagai macam cara yang salah satunya yakni politik adu domba. Dengan
politik ini, Belanda berhasil mengadu Domba antara Sultan Mahmud Badaruddin
dengan saudaranya sendiri Sultan Najamuddin. Setelah berhasil melakukan Politik
adu domba, kemudian tipu muslihat pun dilakukan oleh Belanda. Sultan Mahmud
Badaruddin kemudian ditangkap lalu diasingkan ke Ambon. Mulai saat itu bentuk
perubahanpun dilakukan oleh pemerintah Belanda, yang salah satunya adalah
kepemimpinan Islam Palembang yang semula bergelar Sunan, dirubah Pemerintah
Belanda menjadi Sultan.
Dipemerintahan
daerah (Wilayah kekuasaan Ngabehi) Belanda gencar melakukan politik adu domba.
Perpecahan dilakukan oleh pihak Belanda dengan mengangkat seorang Pangeran di
wilayah tersebut untuk menyaingi kepemimpinan “Ngabehi”. Sebagai contoh,
Belanda mengangkat Pangeran Tebing Abang, Pangeran Kertomulia dan masih banyak
lagi. Dengan dasar tersebut, akhirnya Pemerintah Belanda mengubah Gelar
“Ngabehi” menjadi “Depati” yang dalam bahasa Belanda berarti Pemimpin Daerah.
Dengan begitu berakhirlah pemerintahan “Ngabehi” sampai dengan “Ngabehi ke
VIII, yang selanjutnya berganti nama menjadi “Depati.
Urutan nama-nama Depati antara lain :
1.
Depati R.TOYA Bin AMZA.
2.
Depati R.OESIN JAYOSEMPURNO Bin AMZA
3.
Depati R.HANAN Bin ABD.MANAN Bin AMZA
4.
Depati R.CIKMAT Bin R.HANAN Bin R.ABD.MANAN Bin R.AMZA
Sejarah Depati sendiri berakhir sekitar tahun
1955 ( + sepuluh tahun setelah kemerdekaan) yang kemudian gelar Depati
diganti menjadi Pesirah. Pada masa setelah Depati, pemerintah RI (daerah
khususnya) melakukan sistem pemilihan umum untuk memilih Pemimpin Daerah.
Berikut beberapa nama pesirah berdasarkan urutan
kepemimpinan :
1.
Periode awal Pemilihan, Pasirah terpilih bernama Alitiar yang berasal
dari Desa Danau Rate.
2.
Kemudian, Alitiar digantikan oleh Hasan Basri bin Cikmat
3.
Dan terakhir H.
Utih atau Cik Utih dari Danau tampang.
Adapun Zuriat dari Raja Palembang yang apabila
berpeluang akan menjadi Raja maka untuk anak laki-laki diberi gelar Raden,
sedangkan untuk perempuan diberi gelah Raden Ayu. Kedua gelar inilah yang
kemudian menjadi ciri yang dulu digunakan masyarakat asli Palembang untuk tetap
melestarikan simbol kebangsawanannya. Namun sayang, gelar yang mencirikan garis
keturunan ini sudah tidak banyak lagi dipergunakan.
Sebelumnya, dahulu kecuali laki-laki, wanita yang
berasal dari keturunan Raden Besmat maupun Raden Amza, tidak diperbolehkan
melakukan pernikahan diluar garis keturunan ini sebab dikhawatirkan akan
memutus mata rantai garis keturunan atau silsilah selanjutnya. Namun meskipun
sudah dilakukan, gelar “Raden” dan “Raden Ayu” sudah mulai dikesampingkan oleh generasu
ke generasi berikutnya sehingga dengan demikian maka secara otomatis asal usul
garis keturunan merekapun menjadi tidak jelas karena sudah tidak dipergunakan.
Namun ada sebagian keturunan yang masih bisa mengetahui silsilah keturunannya
dikarenakan masih adanya saksi hidup yang dapat menjelaskan sejarah garis
keturunan yang bersangkutan.
Sebagai referensi, bagi saudara-saudara yang mungkin masih belum mengetahui
garis keturunan nya, mungkin dapat melihat garis besar Zuriat “Ngabehi” Sungai
Rotan berikut ini :
·
Ngabehi I bernama Raden Muhamad Nur
·
Ngabehi II bernama Raden Muhamad Ali
·
Ngabehi III bernama Raden Rafels
·
Ngabehi IV bernama Raden Bujil
·
Ngabehi V bernama Raden Gateh
·
Ngabehi VI Bernama Raden Bakowi
·
Ngabehi VII bernama Raden Basmat
·
Ngabehi VIII bernama Raden Amja ( saudara Raden Basmat)
Berikut adalah Zuriat dari Ngabehi VII & VIII
Zuriat “Ngabehi VII Raden Besmat ( Tumenggung Kartaguna VII)
1. Raden H. IBRAHIM yang kemudian memiliki keturunan :
ü
R. H. Akif - Ayahanda dari Wanda Sopi mantan Kepala Dinas
Perdagangan
ü
R.H. Abdul Majid – Lebih dikenal sebagai Kepala
Penghulu dijamannya
ü
R.H Abdul Rozak – Ayahanda dari Paman Fesol (mungkin
ada referensi nama sebenarnya)
ü
R. H. Hasan – Ayahanda dari Paman Cendo, Kati
ü
R.A. Hj…..
– Ibunda dari Paman Bohor
ü
R.A. …….. Ibunda Paman Wanda Hasan Basri ( Nenek
Mantan Waka Bupati Hanan Zulkarnain)
ü
R.A …. – Ibunda Paman Yapas
ü
R.A ….. – Ibunda Paman Asri
2.
Raden H.
ABDURRAHMAN, yang kemudian memiliki keturunan :
ü
Bapak Lio – Ayahanda dari Paman Majali
ü
Bapak Sholeh – Ayahanda dari Paman Pahisa
ü
Bapak Senal – Ayahanda dari Paman Cikani
ü
Bapak Mahyi – Ayahanda Bibi Numah ( Bibi Numah
Menikah dengan Paman Zahri / Bpk. Kutni. Keluarga beliau sekarang semua menetap
di kota Jedda Arab Saudi )
Zuriat “Ngabehi VII Raden Amza ( Tumenggung Kartaguna VIII)
Raden Amza sendiri memiliki 7 orang istri yakni :
v R.A Siti
Zulaiha dari Palembang
v
Siti Mariam dari Tanah Abang
v
Daminah dari Rantau Bayur
v
Masdjidah dari Sukarami
v
Nursidah dari Danau Tampang
v Pulan dari Sungai Rotan dan menurut narasumber, tidak mendapat
keturunan (data nama istri belum
ditemukan )
v
Pulan dari Danau tampang dan menurut narasumber,
tidak mendapat keturunan (data nama
istri belum ditemukan
Demikian ulasan singkat mengenai Sungai Rotan
beserta garis besar silsilah keturunan dan pemerintahannya. Bagi
saudara-saudara yang memiliki data yang mungkin dapat menambah penjelasan baik
itu garis keturunan, koreksi ataupun nama-nama yang belum tertera pada ulasan di atas,
dapat menghubungi kami via inbox facebook yang tertera pada halaman Blog. Mohon maaf dan koreksi apabila ada kesalahan dalam penulisan nama/ gelar atau silsilah yang mungkin kurang tepat.
Salam Persaudaraan
Admin
Nara sumber :
Ir. Gamal Abd Nasser (Cucu H. Abd. Majid) - Palembang << Show on Facebook
Darul Kutni - Jedda Arab Saudi << Show on Facebook
dari berbagai sumber yang tidak dapat kami kemukakan satu persatu
Editing by :
Husni T. B. ZH
" BANTU KAMI MENGEMBANGKAN WEB BLOG INI DENGAN TURUT SERTA MENJADI PENULIS DI BLOG INI MARI MENAMBAH WAWASAN MELALUI BERAGAM INFORMASI, BERITA DI SEKITAR KITA YANG TENTUNYA BERMANFAAT UNTUK KITA SEMUA"
CARANYA:
- registrasi <<< Klik disini >>>
- selanjutnya kami akan memberikan panduan tentang tata cara penulisan / posting yang harus anda lakukan.



















