Namun, belakangan muncul caleg-caleg dari kalangan biasa yang siap
bertarung merebut hati rakyat bersaing dengan calon lain yang mapan
ekonomi. Mereka bukan datang dari kalangan pendidikan tinggi, modalpun
seadanya. Namun mereka tak gentar.
Hanya modal nekat. Itu yang dilakukan Rinawati (22), seorang kasir
Stasiun Pengisian Bahn Bakar Umum (SPBU) di Tulang Bawang, Lampung,
untuk maju sebagai calon legislatif dalam bursa pemilihan calon anggota
dewan perwakilan daerah. [Selengkapnya Baca disini]
Gadis cantik yang dalam kesehariannya mengenakan hijab ini memilih
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai kendaraan politiknya menuju
kursi legislatif. Ia tercatat sebagai caleg termuda di daerah pemilihan
Tiga Rawa Pitu, Penawar Tama, Tulang Bawang, Lampung.
Bahkan, Rina mengaku nyaris tidak lolos dalam verifikasi daftar
calon tetap KPU karena terbentur umur yang masih muda. "Waktu saya
daftar di KPU, saya nyaris saja tidak lolos. Untung saya lahir pas bulan
dua, jadi umur saya cukup. Alhamdulillah saya bisa masuk,” tutur gadis lajang ini, Rabu 12 Februari 2014.
Rina berharap bisa menjadi seorang anggota dewan untuk membantu
masyarakat kecil dalam menyampaikan aspirasinya. "Saya nekat saja,
mudah-mudahan bisa," katanya.
Tak jauh berbeda dengan Mea, pedagang bubur ayam di Pasar Andir,
Desa Bayongbong, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut ini juga
terdaftar sebagai calon anggota DPRD Garut dari Partai Nasdem.
Pria 35 tahun itu maju sebagai calon nomor urut 5 dari daerah
pemilihan Garut II yang meliputi 9 kecamatan yakni Bayongbong, Cigedug,
Cisurupan, Sukaresmi, Cikajang, Banjarwangi, Singajaya, Cihurip, dan
Peundeuy.
Niat Mea menjadi caleg tak lain untuk memperbaiki derajat dan
kehidupan pedagang kaki lima yang lebih baik. Mea mengaku prihatin,
terutama para PKL yang nasibnya tak jelas karena selama ini dipandang
sebagai pedagang yang dianggap mengganggu ketertiban umum.
"Inginnya para PKL ini ditempatkan di lokasi yang layak agar bisa
tenang berusaha dan tidak lagi dianggap pengganggu ketertiban umum,"
katanya.
Kesempatan berjualan bubur ayam menjadi salah satu cara bagi Mea
untuk mensosialisasikan diri kepada warga agar nanti pada Pemilu
legislatif mendatang memilih dia. "Biasanya sekitar 30 orang merupakan
pelanggan yang rutin membeli bubur, kemudian selebihnya hingga 20 orang
merupakan pelanggan baru," katanya.
Sambil bersenda gurau menyantap bubur buatannya, Mea mengajak
pelanggan bertukar pikiran soal pembangunan di Garut. "Sekalian
sosialisasi pencalonan saya." [Selengkapnya baca disini]
Selain sosialisasi lisan, Mea juga menyebar stiker dan kartu nama.
"Ada 10 kursi yang diperebutkan, mudah-mudahan salah satunya saya," kata
Mea.
Cara itu dianggap Mea cukup efektif. Dengan standar modal yang
dimilikinya, tentu baliho dan spanduk besar bergambar wajahnya hanya ada
di angan-angan.
Serba pas-pasan
Memiliki profesi sama dengan Mea, Huduriah Kokam, pedagang sayur
dan kerupuk asal Pollewali Mandar, Sulawesi Barat ini punya tekad kuat
mengubah nasibnya. Meski cuma pedagang kecil dengan modal pas-pasan,
Kokam nekat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif kabupaten.
Huduriah maju sebagai caleg DPRD Kabupaten Polewali periode 2014-2019
dari Partai Bulan Bintang.
Rekannya sesama pedagang memberi dukungan penuh. Tekadnya kian
membuncah. Sosialisasi kian rajin dilakukan Huduriah dan rekannya yang
tulus membantu.
Di tengah keramaian pasar, sambil berdagang, Huduriah juga melakukan sosialisasi. [Baca selengkapnya disini]
Setelah dagangannya ludes, ia tidak pulang ke rumah, tapi
'kampanye' dulu di sekitar pasar. Untuk membuat stiker dan kartu nama,
Huduriah menyisihkan keuntungan hariannya dari menjual sayur.
"Saya berjanji akan memperjuangkan nasib pedagang kecil dan warga
miskin kalau jadi anggota DPRD. Kemiskinan bukan jadi penghalang demi
memperjuangkan masyarakat lemah dan pedagang kecil," kata Huduriah. Ia
juga bertekad meningkatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan untuk
masyarakat miskin.
Caleg yang satu ini juga hanya punya modal pas-pasan. Namun, tak
menyurutkan hasratnya untuk menang dalam Pemilu legislatif April
mendatang. Dia adalah Muhammad Arifunnajih, seorang sopir ambulans di
salah satu rumah sakit di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Arif, begitu dia disapa, nekat maju menjadi calon legislatif dari
Partai Nasdem. Di beberapa kesempatan, Arif tidak pernah lupa tebar
pesona dan aktif membagikan stiker yang bergambar dirinya kepada
keluarga pasien yang sedang menunggu keluarganya di rumah sakit. [Baca disini]
Kepada keluarga pasien, Arif berjanji akan memperjuangkan biaya
kesehatan gratis bagi warga miskin jika dia terpilih menjadi anggota
DPRD Kabupaten Jember itu. Arif yang tinggal di Dusun Gumuk Banji, Desa
Kencong, ini sudah menjadi sopir ambulans sejak tahun 2009 dengan gaji
Rp30-50 sekali antar jemput pasien.
Dengan gaji pas-pasan itu, Arif tidak takut bersaing dengan calon
legislatif lainnya. "Meski maju dengan modal seadanya, saya berjanji
pada pemilih untuk tidak korupsi," kata Arif.
Maraknya calon legislatif dengan profesi biasa dan gaji minim ini
ternyata mendapat sambutan baik di kalangan masyarakat. Mereka bahkan
tidak mempermasalahkan kemampuan para caleg itu dalam dunia politik.
"Saya yakin kalau caleg dengan profesi biasa akan benar-benar
memperjuangkan dan membela nasib rakyat kecil," kata Suprapto, salah
satu keluarga pasien.
Kostum pendekar 'dapil neraka'
Cara unik dilakukan Murti Sari Dewi, artis lawas pemeran Lasmini dalam film Saur Sepuh.
Caleg DPR RI Partai Gerindra nomor urut 3 untuk Dapil Jawa Tengah V ini
memulainya dengan berkeliling pasar tradisional dengan mengenakan
kostum ala pendekar.
Murti mensosialisasikan pencalonannya di Pasar Kleco Solo dengan
kostum pendekar lengkap layaknya busana yang dulu dikenakannya saat
memerankan Lasmini dalam film Saur Sepuh. Cara tak biasa ini
dilakukan Murti mengingat dia akan bertarung di dalam daerah pemilihan
(dapil) yang disebut sebagai 'dapil neraka', karena sejumlah nama
pesohor, termasuk politisi berlatar belakang artis, atlet, sampai
politisi ternama mencalonkan diri dari daerah yang mewakili Klaten.
Dalam sosialisasinya itu, ia membagikan sejumlah kalender yang
bergambar dirinya lengkap dengan nomor urut serta dengan latar belakang
poster film Saur Sepuh. [Baca disini]
Dengan kostum seperti itu, Murti pun berhasil menarik perhatian
para pedagang dan pembeli di pasar tradisional itu. Bahkan, mereka pun
berebut sekadar untuk berjabat tangan maupun berebut mendapatkan
kalender.
Dalam kesempatan itu, Murti mengatakan, sosialisasi dengan cara
seperti ini dilakukan supaya masyarakat mengingat, ia dulu pernah
menjadi pemeran Lasmini dalam film Saur Sepuh. "Masyarakat tahu
kalau saya yang dulu pernah menjadi Lasmini ikut maju menjadi caleg
dari Partai Gerindra," kata dia, Rabu 12 Februari 2014.
Oleh sebab itu, ia berencana terus mengenakan kostum Lasmini selama
melakukan sosialisasi di sejumlah tempat di Dapil Jawa Tengah V yang
meliputi Solo, Sukoharjo, Boyolali dan Klaten. "Kalau dengan mengenakan
kostum pendekar Lasmini baru pertama kali hari ini. Sedangkan sebelumnya
lebih sering menggunakan pakaian biasa," katanya.
Sosialisasi ini, bertujuan untuk mendekatkan dirinya dengan para
calon konstituen, mengingat terjun di partai politik merupakan
pengalaman baru bagi dirinya. "Jika tidak kenal maka tak sayang,
sehingga saya akan terus melakukan sosialisasi untuk lebih dekat dengan
masyarakat," ucapnya.
Di Dapil Jawa Tengah V, Murti Sari Dewi akan bertarung langsung
dengan putri mahkota PDIP, Puan Maharani. Pasalnya, putri Megawati
Soekarnoputri itu juga menjadi caleg PDIP nomor urut 1. Tak hanya itu,
di dapil tersebut juga ada artis lain, seperti Angel Lelga, caleg PPP
dan Tia AFI, caleg PKB.
































0 thoughts on “Kisah Para Caleg, dari Pedagang Bubur Hingga Kasir Cantik”